http://anime7graphic.blogspot.com/2009/02/free-download-brush-photoshop.html
: download brush photoshop
Kumpulan Hal Unik, Aneh, Menarik, Menegangkan dan Mencengangkan
http://anime7graphic.blogspot.com/2009/02/free-download-brush-photoshop.html
: download brush photoshop
Astagatega tidak membuka cabang dimanapun, temukan hal2 menarik hanya di
astagatega.blogspot.com
Gambar pertama Pangeran Diponegoro yang dibuat oleh FVHA de Steurs
Pangeran Diponegoro
Sebenarnya tidak perlu untuk memperkenalkan kembali Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Indonesia (pahlawan nasional), yang luar biasa ini dan penangkapan beliau yang didasari oleh pengkhiatan yang disebabkan oleh kekuatan kolonial.
Pangeran Diponegoro lahir pada masa penjajahan Belanda pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Ontowiryo. Ayahnya adalah Sultan Hamengkubuwono III, penguasa dari Kesultanan Yogyakarta dan ibunya adalah Raden Ayu Mangkorowati, anak perempuan dari Bupati Pacitan dan seorang gundik.
Sebagai anak tertua Raden Ayu Mangkorowati, dia juga disebut Kanjeng Pangeran Diponegoro, dan ia dibesarkan oleh neneknya Ratu Ageng yang Saleh, janda dari Sultan Hamengkubuwono I.
Keluarga Bustaman dan Diponegoro
Tidak banyak yang mengetahui bahwa dua dari sepupu Raden Saleh Syarif Bustaman, yaitu Raden Sukur (yang mengambil nama Raden Panji Adi Negara, lahir pada tahun 1803) dan juga kakaknya yang bernama Raden Saleh (alias Arya Natadiningrat, lahir pada tahun 1801), anak-anak dari Bupati terkenal Semarang Kyai Adipati Suryamangalla (Suraadimanggala), juga berjuang bersama Pangeran Diponegoro.
Oleh karena itu, ayah dari Raden Sukur - Bupati Semarang yang terkenal dan dicintai - dan saudaranya Raden Saleh, ditangkap oleh Belanda pada tahun 1825. Mereka pertama kali dipenjara didalam kapal "Maria van Reygersbergen" dan kemudian dikirim ke Surabaya diatas kapal "Pollux".
Setelah itu, ayah dan anak diasingkan ke Ambon dan Sumenep pada tanggal 20 Juli 1827 pada usia 62.
Bayangkan, salah satu anggota masyarakat Indonesia dari keluarga yang memerintah sebagian besar Jawa selama berabad-abad, salah satu yang paling dihormati, beradab dan berjiwa kepemimpinan waktu itu - dikirim ke penjara dikarenakan keyakinannya dan keyakinan keluarganya untuk memperjuangkan kebebasan dari penjajahan atas bangsanya.
Tetapi kekuatan-kekuatan kolonial Belanda tidak dapat menahan Raden Sukur. Walaupun ayahnya dan saudaranya ada dibawah kekuasaan penguasa kolonial, dia tetap setia dan mendukung Pangeran Diponegoro sampai akhir, dan akhirnya ditangkap pada 26 Juli 1829.
Keluarga kami menjadi sangat menderita, karena dukungan yang diperuntukkan untuk Pangeran Diponegoro dan tujuan mulianya, dianggap sebagai "aib keluarga" oleh kekuasaan kolonial Belanda.
Raden Saleh dan Diponegoro
Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda menjadi dasar dan latar belakang dari perjuangan rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan, persatuan dan martabat bangsa.
Mitos modern menganggap bahwa bangsa Indonesia telah dipengaruhi oleh Perang Jawa. Ingatan akan spirit, kecerdikan, semangat dan penderitaan Diponegorolah yang telah mendorong bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan kolonial pada tahun 1945. Perjuangan dan pengorbanan Diponegoro telah menandai momen majikal disaat pembangunan sejarah dan penciptaan diri bangsa Indonesia setelah kemerdekaan.
Pidato, essai, artikel, buku, strip komik, film, seperti halnya 1828 oleh Teguh Karya berjudul 1828, yang tak terhitung banyaknya, juga halnya lukisan Diponegoro Terluka (1983 belum selesai) oleh Hendra Gunawan demikian pula opera Opera Diponegoro by Sardono W. Kusumo dibuat untuk mengingat pahlawan nasional ini.
Sekolah, universitas, museum, jalan-jalan, hotel, rumah cetak, produk industri, dan divisi tentara memakai namanya. Semua ini dalam rangka menunjukkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pangeran Diponegoro.
Penangkapanan Diponegoro yang diakibatkan oleh pengkhiatan (walaupun sebelumnya dijanjikan keselamatan atas dirinya), merupakan momen bersejarah bagi bangsa Jawa/Indonesia. Tidak mengherankan apabila ideologi politik dan sejarahnya menjadi sumber atas dasar dan martabat dari bangsa Indonesia.
Belanda selama beberapa dekade tahu tentang pentingnya kemenangan mereka atas Diponegoro. Kemenangan ini terjadi dengan mengerahkan seluruh konsentrasi dan juga sumber daya ekonomi mereka. Pada tahun 1825, kolonial berdiri dijurang keruntuhan.
Oleh karena itu perang Jawa dipercaya oleh beberapa generasi berikutnya sebagai Grauen an sich (horror in itself). Pemerintah Belanda berusaha untuk menerapkan kebijakan keamanan di tanah jajahan yang menghindari situasi yang mungkin dapat membuahkan hasil yang sama seperti di Jawa Tengah pada tahun 1825.
Ketika Raden Saleh meminta ijin untuk melakukan perjalanan napak tilas ke beberapa tempat dimana telah terjadi perang Jawa pada tahun 1856 untuk membuat beberapa lukisan, pemerintahan lokal Belanda menentangnya dengan memberikan alasan bahwa kenangan atas perang Jawa masih sangat lekat dalam ingatan.
Pada saat pecah perang Jawa di tahun 1825, Raden Saleh masih berumur 14 tahun dan tinggal di Bandung atau Bogor, jauh dari lokasi perang itu sendiri. Dia meninggalkan Batavia pada tahun 1829 untuk pergi ke Belanda. Ketika Diponegoro ditangkap di Magelang pada tanggal 28 March 1830, Raden Saleh sudah menjadi siswa dari pelukis potret Belanda Cornelis Kruseman di Den Haag. Ketika berita tentang tertangkapnya Diponegoro terdengar di Belanda, berita tersebut membawa kebahagiaan dan kelegaan bagi masyarakat Belanda. Akhirnya perang Jawa yang panjang dan berdarah telah berakhir.
Memang kabar gembira dan kabar baik bagi ribuan keluarga Belanda yang mempunyai anak yang bertugas di ketentaraan Netherlands-Indies, berita yang menyenangkan bagi penguasa Belanda yang akhirnya dapat mengimplementasikan strategi baru untuk mengeksploitasi negara jajahan mereka. Era baru akan segera dimulai.
Jawa berada di tepi transformasi ekonomi: dalam waktu 10 tahun itu tanah jajahan ini akan menjadi yang paling berharga di bumi. Namun berita ini bukan berita baik untuk orang Jawa dan tentu bukan untuk seorang anak muda Jawa yang berada jauh di Belanda.
Ketika Hendrik Merkus de Kock, yang mengatur penangkapan Diponegoro, kembali to Holland pada akhir tahun 1830, dia menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional. Untuk merayakannya dan menandai kesuksesan ini, de Kock meminta agar Cornelis Kruseman – guru dari Raden Saleh - untuk membuatkan lukisan dirinya.
Ketika dilukis itulah, seorang anak muda Jawa duduk didepannya. Kemungkinan besar de Kock diingatkan kembali kepada masa tugasnya di Indonesia dan mengenang kembali anekdot anekdot yang terkait dengan musuh Belanda yang terkenal yaitu Pangeran Diponegoro.
Dr. Dr. George H. Hundeshagen "Penangkapan Pangeran Diponegoro"
Suatu hal yang memungkinkan bahwasanya Saleh ditugaskan untuk menyelesaikan beberapa bagian dari lukisan tersebut seperti mengisi latar belakang. De Kock tidak hanya meminta untuk dibuatkan lukisan diri, namun juga meminta agar dibuatkan lukisan atas penangkapan Diponegoro kepada Nicolaas Pieneman untuk menandai keberhasilan karir militernya. Hal ini akan kami ulas nanti.
Raden Saleh tidak pernah bertemu dengan Diponegoro karena memang pemerintahan Belanda telah mengatur agar anak muda yang berpendidikan ini dan masih kerabat dari Bupati Semarang dan Keluarga Bustaman dapat dicegah untuk kembali ke Jawa Tengah.
Raden Saleh harus ke Belanda dulu untuk dapat akhirnya mengenal sari spiritual dari Diponegoro, pusaka yang membuat Diponegoro menjadi seorang pemimpin yang karismatik (sesuai dengan kepercayaan Jawa). Raden Saleh ”bertemu” dengan Kyai Naga Siloeman, kris, pusaka dari Pangeran Diponegoro..
Kyai Naga Siloeman telah disita oleh Belanda dari Diponegoro ketika dia ditangkap di Magelang. Seluruh masyarakat Jawa harus menyerahkan senjata mereka kepada Belanda dan baru dapat mengambilnya kembali setelah pemimpin mereka, Diponegoro berhasil ditangkap. Namun satu kris tetap disimpan oleh Belanda sebagai bukti atas penangkapan Diponegoro.
Sebelum dikirim ke Belanda, pusaka ini diperlihatkan kepada Sentot, mantan pejabat yang beralih pihak dan sahabat karib Diponegoro, yang telah mengkhianati Diponegoro dan pengikutnya.
Sentot menegaskan dan mengkonfirmasikan, dalam sebuah catatan yang ditandatangani dan di cap, identitas dari kris tersebut dan dikirim kepada Raja Belanda. King Willem I ternyata tidak begitu terkesan dengan pusaka ini, yang dianggap sebagai pusaka utama dari seluruh pusaka pusaka Jawa yang ada. Selain itu, ada masalah yang lebih mendesak yang harus segera ditangani : bangsa Belgia menentang dan memberontak atas inkorporasi Belanda ke negara mereka. King Willem I memerintahkan agar pusaka ini disimpan didalam Kabinet penyimpanan barang barang berharga, Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden ( his curiosity cabinet) .
Direktur dari Kabinet,, RP van de Kasteele, yang tidak dapat mengerti catatan Sentot yang dibuat dalam tulisan sansekerta, memerlukan beberapa kalimat untuk katalognya. Dia meminta seorang anak muda berpendidikan Jawa untuk membuatkan catatan singkat. Siapa lagi yang memungkinkan untuk mengerjakan hal ini kalau bukan Raden Saleh.
Berikut catatan yang dibuat pada tanggal 17 Januari 1831 : ‘ Kyai berarti Guru. Seseorang yang menjadi bagian dari penguasa disebut demikian. Nogo adalah ular yang dipercaya memakai mahkota. Siloeman , adalah yang dihubungkan dengan kepercayaan kekuatan supra natural, seperti membuat diri sendiri tidak terlihat. Nama kris Kyai Nogo Siloeman mempunyai arti, apabila memang memungkinkan untuk diterjemahkan mengingat betapa luar biasanya pengaruh keris ini, “Raja Naga berkekuatan magis” (Magician King of the Snakes).
Dapat dibayangkan perasaan dari anak muda Jawa yang jauh dari negaranya ini. Dengan Kyai Nogo Siloeman ditangannya, dapat dibayangkan betapa kerinduan dan rasa sentimental melanda jiwanya. Bayangkan perasaan apa yang meliputi segenap aliran darahnya.
Apakah dia bisa mengatasi daya magis dari Kyai Nogo Siloeman? Disana berdiri pula Bapak Kasteele, Direktur Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden menunggu laporan. Bukankan ini gabungan dari campuran budaya yang saling bertolak belakang ?
Secara kebetulan, Kyai Nogo Siloeman, keris yang paling ternama dari keris keris Jawa ternama lainnya, tidak dapat diketemukan kembali di Museum Belanda dan telah menghilang. Apakah kris telah kembali ke tanah Jawa - tidak menjadi masalah karena kekuatan magisnya – atau apakah Raden Saleh telah menemukan cara untuk “meminjamnya” ?
Ini merupakan sebuah cerita yang indah tentang kris dan sarungnya.
Pangeran Diponegoro ternyata tetap dalam ingatan Pangeran Raden Saleh. Ketika beberapa tahun kemudian, Raden Saleh pindah ke Paris, seorang wartawan surat kabar melaporkan adanya perlakuan yang buruk dari Belanda terhadap Pangeran Diponegoro. Berita ini mengakibatkan terjadinya reaksi di The Hague. Bahkan pemerintah Perancispun melayangkan protes resmi kepada pemerintah Belanda.
Pemerintah Belanda ingin sekali tahu siapa yang telah menyebar luaskan berita memalukan ini. Peter Carey yakin bahwa Raden Saleh lah yang menjadi sumber di belakang artikel ini. Sepertinya Raden Saleh telah memulai perang gerilya intelektual.
Penangkapan Pangeran Diponegoro
Sepuluh tahun setelah wafatnya Diponegoro, yang diterbitkan secara singkat dalam surat kabar Javasche Courant pada tanggal 3 Februari 1855 terkait dengan berita wafatnya Pangeran Diponegoro pada tanggal Januari di Makasar, Raden Saleh telah berada kembali di tanah Jawa selama 3 tahun. Tampaknya pada saat itulah dia berpikiran untuk menunjukkan penghormatannya kepada almarhum pahlawan Jawa ini melalui karyanya The Capture of Pangeran Diponegoro .
Dia meminta ijin kepada penguasa Belanda agar diperbolehkan untuk melakukan perjalanan ke tempat tempat bersejarah dimana telah terjadi perang Jawa Tengah untuk membuat sketsa adegan perang. Pemerintah menolaknya, penguasa percaya bahwa belum saatnya rakyat diingatkan kembali oleh betapa pahitnya peperangan yang belum berakhir terlalu lama itu.
| |||||||||
| |||||||||
Kurangnya kerjasama dari pemerintah tidak mematahkan semangat Raden Saleh untuk meneruskan rencananya. Pada tahun 1856, dia membuat sketsa (diatas) dan pada tahun 1857 menyelesaikan sebuah lukisan cat minyak yang dalam suratnya kepada teman Jermannya, Duke Ernst II of Sachsen, Coburg and Gotha sebagai ‘Ein historisches Tableau, die Gefangennahme des javanischen Häuptlings Diepo Negoro’ (Lukisan bersejarah tentang penangkapan seorang pemimpin Jawa Diponegoro).
Raden Saleh berkunjung ke Magelang pada tahun 1852 dan 1853 dan mengetahui secara jelas lokasi keberadaan rumah Belanda dan sekitarnya. Bupati Magelang pada saat itu Raden Adipati Hario Danoe Ningrat, merupakan sepupu jauh Pangeran Raden Saleh.
Dari segi artistik ini merupakan tantangan yang sangat mendalam. Tidak pernah sebelumnya dia mengerjakan satu komposisi dengan melibatkan banyak orang didalam lukisannya. Sekurang kurangnya 40 orang harus dapat ditempatkan dalam kanvas tersebut dan hal ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pelukis manapun. Raden Saleh dapat mengatasi pekerjaan ini dengan sangat memukau dan lukisannya terlihat tertata dengan sangat indah, seimbang dan harus diakui sebagai salah satu dari karya maha agung (masterpiece).
Raden Saleh pastinya tahu mengenai versi lukisan bersejarah yang sama yang dibuat oleh Pieneman dan juga kenal baik dengannya. Nicolaas Pieneman (1809-1860) seperti halnya bapaknya, Jan Willem Pieneman, adalah salah satu dari pelukis favorit House of Orange dan menjadi bagian dari sejarah pelukis kenamaan Negara Belanda. Lukisan seperti William of Orange wounded by Jaureguy atau Admiral de Ruyter’s heroic death menjadi sangat terkenal pada awal pertengahan abad ke 19.
| |||||||||
| |||||||||
Lukisan minyak diatas kanvas, 77x100cm, De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock, 28 maart 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam dianggap sebagai lambang kepahlawanan dari Sejarah Belanda.
Dengan sikap gaya yang terkenal, De Kock menunjukkan kepada Diponegoro kereta kuda, yang akan membawanya dari Semarang ke tempat pengasingan. Diponegoro juga diperlakukan dengan perlakuan serupa seperti perlakuan yang diterima oleh De Kock sembilan tahun sebelumnya oleh Sultan Baharuddin Palembang.
Pieneman membuat Diponegoro tampat tunduk, begitu pula halnya dengan para pengikut dan pendukungnya. Setiap orang mempunyai pikiran dan mendapat kesan bahwa tindakan De Kock adalah yang terbaik untuk rakyat Jawa dan bahwasanya De Kock tidak mempunyai pilihan lain selain mengasingkan Pangeran Diponegoro, layaknya seorang bapak yang mencintai anaknya yang membangkang sehingga anaknya dapat menerima ganjaran yang selayaknya.
Lagipula De Kock bukanlah seorang penjajah yang kejam melainkan grand master dari humanistic Freemasons di Indonesia. Seluruh yang hadir pada kanvas terlihat santai (bahkan yang menangis), tidak tampak adanya penolakan, pergolakan dan bendera Belanda yang mempunyai tiga warna tampak berkibar.
Nicolaas Pieneman tidak pernah menjejakkan kakinya di tanah Jawa sehingga orang orang Jawa yang tampak pada lukisannya lebih mirip orang orang dari Timur Tengah. Dia membuat lukisannya berdasarkan sketsa dari FVHA Ritter de Steurs, aide-de-champ dan juga menantu dari General de Kock. Penderitaan orang Jawa tidak tampak sama sekali.
Pangeran Raden Saleh pasti pernah melihat lukisan Pieneman atau bahkan pernah melihat beberapa lukisan Pieneman yang lain di Batavia. Mungkin pula Raden Saleh membuat salinan dari lukisan Pieneman di Belanda.
Ketika dia membuat sketsa pertama (tampak diatas) sebelum membuat lukisannya di tahun 1856, sketsa tersebut masih tampak dipengaruhi oleh komposisi Pieneman walaupun terlihat bahwa hubungan antara De Kock dan Diponegoro sudah semakin tegang. Raut muka De Kock tampak tegang demikian pula halnya dengan Diponegoro.
Lukisan yang terdapat di Atlas van Stolk di Rotterdam memperlihatkan adanya 2 penunggang kuda disisi kiri yang menjadi ciri menonjol dari lukisan Pieneman. Perlakuan tentara Belanda yang digambarkan oleh Salehpun mengingatkan kita kepada versi Pieneman.
Versi akhir dari Capture of Diponegoro, lukisan minyak diatas kanvas, 112 x 178 cm, yang disimpan di Museum Istana Jakarta, memperlihatkan adanya beberapa komposisi dan kualitas emosional yang tercampur dengan baik. Diponegoro yang terlihat marah menjadi pusat pandang di tengah lukisan. Dia berjuang untuk mengatasi perasaannya – ciri khas budaya Jawa -. Wajahnya menunjukkan sikap yang provokatif dan ekspresi menantang dan pejabat Belanda menunjukkan sikap yang kaku dan menghindari tatapan pandangan mata.
| |||||||||
| |||||||||
Dalam versi Pieneman, Pangeran Diponegoro ditempatkan satu tingkat lebih rendah dibandingkan de Kock. Saleh menempatkan orang orang Jawa sejajar. Terkait dengan posisi De Kock, Diponegoro berdiri di sebelah kanannya, sedangkan Kepala Komandan Belanda berdiri di sebelah kiri, yang di dalam budaya Jawa disimbolkan sebagai tempat untuk perempuan. Ini juga menunjukkan bahwa pejabat Belanda ini menempati posisi kedua.
Dalam versi Raden Saleh, Diponegoro tidak ditunjuk untuk memasuki kereta kuda namun diundang oleh seorang De Kock yang tampak tidak berdaya.
Yang menarik adalah bahwa kepala dari pejabat pejabat Belanda dilukis lebih besar dari ukuran yang seharusnya. “Kesalahan” ini tidak tampak pada lukisan awal, demikian juga dengan ukuran kepala orang orang Jawa sendiri.
Hal ini dikarenakan bahwa “kesalahan” tersebut memang secara sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa pejabat Belanda adalah monster. Lukisan ini mempunyai 2 tingkat, dua arti : latar muka memperlihatkan segi pandang pihak Belanda dan latar belakang secara tersembunyi memperlihatkan masyarakat Jawa.
Bagi mereka, De Kock adalah raksasa perempuan, seorang monster dengan kepala yang besar. Publik Belanda tidak dapat melihat adanya detil ini dan bagi mereka, seniman Jawa ini memperlihatkan ketidak mampuannya dalam melukis. Bahkan sejarawan Belanda yang sangat terkenalpun, HJ de Graaf, tidak dapat merasakan makna yang tersembunyi dari lukisan ini.
Dia menulis: “Saya tidak melihat indahnya lukisan ini. Kepala mereka tampak terlihat sangat besar dan penangkapan Pangeran tidak terjadi di depan sebuah gedung namun didalam rumah”.
Perbedaan mendasar dari lukisan Pieneman dan Saleh adalah penafsiran dari dua pelukis yang berbeda yang melihat drama ini dengan cara pandang yang berbeda pula. Sementara Pieneman membuat lukisannya dari arah barat daya, Raden Saleh membuatnya dari arah tenggara. Pieneman memperlihatkan adanya tiupan angin dari barat (sering terjadi di Belanda) yang membuat bendera Belanda terlihat berkibar secara dinamis.
Dalam adi karya Pangeran Raden Saleh, cuaca terlihat lebih tenang. Seolah-olah alam semesta menahan nafasnya, tidak ada daun yang bergoyang maupun bendera yang berkibar. Raden Saleh bahkan melupakan adanya bendera tiga warna Belanda sama sekali.
Sementara Pieneman memberi judul karya lukisnya dengan De onderwerping van Diepo Negoro, (Penaklukan Diponegoro - Sugjugation of Diponegoro), Pangeran Raden Saleh lebih suka memberi judul Die Gefangennahme Diepo Negoros, (Penangkapan Diponegoro - The Arrest of Pangeran Diponegoro). Bagi Raden Saleh, Diponegoro bukanlah seorang pejuang yang dapat ditaklukkan. Dia adalah korban pengkhianatan dan korban tindakan curang dari Belanda. Lukisan Raden Saleh The Arrest of Pangeran Diponegoro merupakan karikatur dan bukti dari pahitnya kekuasaan penjajah Belanda.
Untuk pernyataan Clark’s “Lihat apa yang telah kau lakukan kepada kami, namun kami tetaplah kami”, kita bisa menambahkan “Kamu harusnya sangatlah tolol untuk tidak dapat mengerti makna sesungguhnya dari pesan ini”. Menyampaikan pesan dalam bentuk lukisan akan adanya pesan yang tersirat adalah hal yang luar biasa. Tidak ada kesempatan di Batavia untuk memamerkan lukisan kepada masyarakat. Tidak ada musium, tidak ada galeri, tidak ada agen lukisan.
Namun kita tahu bahwa Raden Saleh membuka secara berkala studionya kepada masyarakat umum untuk memamerkan beberapa karya lukisnya. Telah disebutkan tadi bahwa dia telah membangun sebuah rumah besar dengan gaya neo-gothic di Cikini. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bukti yang terdokumentasikan atas pagelaran Pameran lukisan pada tahun 1862.
Koresponden dari Surat Kabar Kesenian Kunstkronijk mengulas dalam artikelnya tentang seni di daerah jajahan. ‘Kassian, kassian ! 'Kassian, kassian! … karya seni adalah komoditi yang tidak dapat ditemukan di pasaran di negara ini”. Yang disusul dengan catatan adanya pengecualian yaitu: Raden Saleh.
Koresponden yang tidak dikenal memberikan deskripsi tentang 2 lukisan yang dipamerkan di rumah Raden Saleh yang merupakan lukisan minyak “A Flood in Java” (Banjir di Jawa) dan ”View of Megamendung” (Pemandangan dari Megamendung). Ratusan orang membanjiri acara tersebut dan pameran ini menjadi buah bibir dan bahan pembicaraan selama berhari-hari diawali dengan ”Apakah Anda sudah melihat pameran lukisan Raden Saleh”. Lukisan A Flood in Java diperuntukkan bagi King Willem III dan Raden Saleh ingin memperlihatkannya kepada publik sebelum dikirim ke Belanda.
Kita tidak mempunyai data yang menyebutkan bahwa lukisan Diponegoro, yang juga dikirim kepada Raja, dipamerkan dengan cara yang sama sebelum dikirimkan. Walau bagaimanapun, ini menunjukkan sikap simbolis yang tinggi bahwa lukisan diperuntukkan kepada perwakilan tertinggi dari Penguasa tertinggi dari sebuah Negara jajahan yaitu Raja Willem III.
Willem III dianggap sebagai liberal oleh sebagian besar pengikutnya dan Raden Saleh ingin mereka dapat membaca pesan yang disampaikannya melalui lukisan 'Lihatlah Anda melakukan ini kepada kami, tetapi kami masih tetap kami'.
Tentu saja Raja tidak dapat mengerti. Untuk beberapa tahun lamanya, Raja menyimpannya di istananya di The Hague. Setelah itu lukisan tersebut dikirim ke trofeengalerij van het Koninklijk Koloniaal Militair Invalidenhuis Bronbeek (gallery of trophies of the Royal Colonial Military Veterans Home Bronbeek - galeri dari piala dari Royal Kolonial Militer Veteran Home Bronbeek). Pada tahun 1978, Oranje Nassau Foundation mengembalikan lukisan tersebut kepada rakyat Indonesia sebagai hadiah.
Hari ini, simbol dari sejarah seni Indonesia menjadi bagian dari koleksi Musium Istana kepresidenan namun sangat disayangkan bahwa sekarang menjadi makin tidak terlihat oleh masyarakat umum sebagaimana layaknya ketika disimpan di Belanda.
Bukan saja Willem III, bahkan nasionalis Indonesiapun banyak yang tidak mengerti arti simbolik dari lukisan Raden Saleh.
Dalam salah satu pernyataannya, Prof. Harsja Bachtiar, seorang yang berpendidikan Amerika ahli dibidang sejarah Indonesia, yang termasuk dalam generasi pertama dari cendikiawan Indonesia, menganggap bahwa lukisan tersebut sebagai tidak nasionalis.
Dia menulis: ”Wafatnya Diponegoro memberi inspirasi kepada Saleh, yang telah melihat banyak lukisan sejarah ketika di Eropa, untuk melukis apa yang dia sebut sebagai lukisan bersejarah 'a historisches Tableau (historical painting). Die Gefangennahmen des Javanischen Häuptling Diepo Negoro' (Penangkapan Diponegoro), yang dilukis untuk Raja Belanda menunjukkan sikap yang tidak nasionalis, namun sangat sesuai dengan hubungan yang menunjukkan rasa terimakasih seorang seniman terhadap aristokratik pelindungnya”.
Beberapa ahli sejarah barat menyetujui analisa Bachtiar. Mereka membandingkan lukisan Pangeran Raden Saleh dengan lukisan yang belum selesai dari Hendra Gunawan berjudul Pangeran Diponegoro Terluka, Astri Wright menyatakan:
‘Raden Saleh, walaupun dengan adanya pernyataan revisionis pada tahun 1980, dengan spirit nasionalis terdahulu, melukis karyanya yang menunjukkan hasil akhir dari Perang Jawa dengan cara yang dapat menimbulkan tercetusnya pemberontakan. Saya tidak tahu apakah lukisan Raden Saleh dibuat berdasarkan permintaan dari Belanda, namun hal ini bisa saja terjadi '.
Jawabannya adalah tidak dan sekali lagi tidak …
Dengan cara yang berbeda dan ditulis di berbagai media, Heri Dono yang menyelenggarakan pameran 2 lukisannya tentang Raden Saleh di Semarang menyatakan bahwa hal ini tidak benar. Lukisan Dono berjudul Raden Saleh jadi Londo (Raden Saleh becomes Dutch) dan Raden Saleh dalam mulut Belanda (Raden Saleh in the mouth of the Dutch).
Pangeran Raden Saleh selalu dianggap sebagai simbol dan model budaya nasional. Bahkan mungkin seorang pahlawan nasional. Apakah dapat Anda bayangkan apabila salah seorang dari penguasa jaman penjajahan dapat mengerti makna sebenarnya dari lukisannya ?
Raden Saleh mempertaruhkan reputasi dan nyawanya untuk turut memerdekakan Negara yang dicintainya dari penjajahan, dalam bentuk tradisi yang sama seperti halnya anggota keluarga besar Bustaman lainnya, pamannya: Kyai Adipati Suryamangalla (Suraadimanggala) dan sepupu sepunya Raden Sukur and Raden Saleh.
Walau bagaimanapun, dia telah membuktikan melalui jiwa seninya bahwa orang Jawa sama tingkatannya dengan orang Belanda, dapat dilihat dari lukisannya. Dia mengangkat harkatnya pada tingkat yang sama dan dapat melihat kedalam mata kekuatan kolonial. Namun dia tidak pernah dianggap sebagai nasionalis sampai saat ini.
Interpretasi ini tampaknya telah berubah akhir akhir ini. Jim Supangkat membuka wacana beberapa tahun yang lalu dengan menulis sebagai berikut: “Sampai saat ini, tidak terdapat adanya bukti nyata bahwa Raden Saleh telah mengambil sikap dalam konfrontasi antara Diponegoro dan penguasa kolonial. Namun adalah tidak masuk akal untuk mempertanyakan apakah dia seorang patriot atau seorang pengkhianat”.
Demikian pula dengan Alwi Shahab yang menambahkan dalam esai panjang (Republika, 22nd December 2002) tentang lukisan Raden Saleh Arrest of Diponegoro: "Itu merupakan sebuah karya lukis yang revolusioner dan antipenjajahan" (yaitu yang revolusioner dan lukisan anti kolonial).
Prasyarat untuk dapat dianggap sebagai suatu lukisan yang mempunyai nilai sejarah pada abad 19 adalah adanya suatu bangsa karena negaralah yang menjadi pelanggannya dan bukannya individual. Atau dapat dikatakan juga bahwa untuk mendapatkan gambaran dari peristiwa nasional bersejarah, harus dibuat dengan cara virtual. Dalam pada ini, Belanda telah membangun imej dari Netherlands India melalui lukisan seperti lukisan Pieneman “Subjugation of Diponegoro” .
Dan Raden Saleh menunjukkan adanya sebuah Negara yang masih dalam penantian dengan melukis “Arrest of Diponegoro” dari sudut pandangnya sendiri. Pengenalan dari lukisan bersejarah adalah melalui pengenalan terhadap ide dari Negara itu sendiri.
Dengan menerima interpretasi Raden Saleh atas lukisan “Arrest of Pangeran Diponegoro”, kita harus dapat menginterpretasikan kembali peran Raden Saleh dalam sejarah itu sendiri. Dia harus dapat ditempatkan di tempat yang benar di awal barisan panjang dari Indonesian modern dan figure proto-nasionalis.
Bahwasanya pesan yang tersirat tidak terlalu difahami oleh saudara saudaranya di tanah Jawa mungkin ada kaitannya dengan masalah waktu : dia terlalu maju untuk jamannya ketika itu dalam bidang modernisasi budaya dan kemasyarakatan. Namun, dia telah membuat langkah besar. Dia telah membuktikan bahwa Jawa juga dapat bersaing dengan teknik budaya Eropa. Karya karya lukisannya termasuk yang pertama dalam topik sejarah dan lukisan yang mempunyai sejarah di bidang seni di Asia Tenggara. Hal ini merupakan representasi, interpretasi, dan komentar pertama pada seni kontemporer.
Untuk pertama kalinya seorang seniman lokal tidak mengharapkan pengakuan dunia atas karyanya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah seni Asia Tenggara, seorang seniman besar mendapatkan tempat di kursi paling depan disebelah para elit politik.
Ini adalah bukti dari sikap modern. Ini adalah sikap modern luar biasa. Ini adalah prasyarat dari awal sebuah era baru, prasyarat untuk modernitas.
With thanks and grateful appreciation to Ms. Kurnia Tiara Agusta (Baby), granddaughter of Hajjah Rangkayo Rasuna Said, for her translation.
sumber : http://www.raden-saleh.org/penangkapandiponegoro.html
Terbit 2004 oleh LKiS | Binding: Paperback | ISBN: 9793381698 | Halaman: 214
TENTU membangkitkan rasa penasaran melihat judul buku yang satu ini. Apalagi melihat sedikit penjelasan tentang apa yang akan dibahas. Masing-masing dalam satu bab tentang sosok Diponegoro (masih belum terbiasa menulisnya Dipanegara seperti dalam buku ini) dan peranannya dalam Perang Jawa 1825-1930, orang-orang Sepoy yang membuat persekongkolan, dan lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro yang mirip lukisan lain.
Tentang yang pertama, tentu semua kita sudah mengakrabi dengan tokoh yang satu ini dan juga tentang perangnya, bahkan sampai-sampai dibuatkan lelucon semacam ini:
Guru: Berapa lama Perang Diponegoro berlangsung?
Murid: 5 menit bu guru!
Guru: Lho kok?
Murid: Iya, (sambil menunjuk jam dinding) dari 18 25 sampai 18 30.
Dulu juga kita dijejali tentang kisahan, bagaimana heroiknya peperangan ini yang awalnya dari pemasangan patok oleh Belanda. Sungguh, ini kita percaya begitu saja. Tapi sudah dari dulu juga, aku bertanya begini: Kenapa Pangeran Diponegoro selalu digambarkan menaiki kuda, dengan pakaian putih, turban putih, macam ksatria dari kerajaan Ottoman, Turki? Kenapa bukan pakai beskap dan blangkon? Kan dia orang Jawa? Trus, kalau sekedar mencabuti patok, kenapa Diponegoro disebut nasionalis? Benarkah dia anti-kolonial?
Lukisan tangan A.J. Bik tentang Diponegoro, saat ia menjadi pengawal Diponegoro selama penahanan di Batavia.
Dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu, masing-masing informasi sudah aku telisik, tapi tidak memuaskan. Sampai akhirnya ketemu buku tipis ini, karangan Peter Carey yang sungguh mengejutkan karena memberi informasi awal yang fasih dan lebih akurat ketimbang isi wikipedia Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Diponegoro). Semua penjelasan Carey cukup masuk akal, apalagi ia menggunakan sumber utama yang baru aku tahu keberadaannya: Babad Diponegoro versi Manado, yang ditulis sendiri oleh Diponegoro di pembuangan sekitar tahun 1830-an. Karena benar seperti yang diutarakan sahabatku Mahatmanto, yang menjuluki buku ini "keberatan judul" sehingga pembaca bisa over-promising selesai membacanya karena kelewat tipis dan sebatas pada menjawab beberapa persoalan awal tentang Diponegoro.
Kisahan Carey diawali dengan penjelasan bahwa Diponegoro adalah anak laki-laki tertua dari HB III, namun sayangnya ia bukan anak dari istri utama, melainkan dari selir raja. Banyak desas-desus berujar, saat HB III wafat dan tahta diserahkan ke anaknya yang masih kecil, sebenarnya banyak pihak menyayangkan. Karena di mata mereka, Diponegoro yang sudah beranjak menjadi pemuda berpengaruh karena kebijakan dan kealimannya, lebih "pantas" dinobatkan jadi raja, meskipun persoalan "pantas" itu tentulah menjadi tidak bijak dalam kacamata tradisional. Karena terbukti, pemerintahan selepas HB III menjadi lemah karena disetir oleh orang-orang yang berada di sekitarnya dan kemudian menjadi sasaran kritik Diponegoro.
Dari kritik-kritik inilah, Diponegoro dituding menyimpan "ketidakpuasan" tersembunyi. Semua tindak-tanduknya "disengaja selalu bertentangan" dengan kemauan pemerintahan kasultanan Yogyakarta yang sah.
Carey memberikan kerangka makro soal konflik "tersembunyi" ini. Bahwa pada saat itu, ketegangan yang terjadi di Yogyakarta diperparah dengan pemerintahan bentukan Surakarta dan campur tangan terlalu dalam orang-orang Eropa (Belanda dan kemudian Inggris) dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi di pemerintahan raja Jawa. Ketegangan demi ketegangan muncul dari pencabutan sistem land-rente ke cultuur stelsel yang menanami lahan-lahan dengan tanaman keras kopi, teh, tebu, merica membuat banyak tuan tanah (yang notabene bangsawan) Jawa yang kehilangan penghasilan dari hasil menyewakan tanah yang akhirnya mengalihkan tanah ke bangsa Eropa dan Cina dan rakyat Jawa terlibat hutang begitu besar padahal sudah bekerja keras. Sementara raja yang muda "seolah" melupakan rakyatnya dan digambarkan lebih senang berpakaian ala mayor jendral Belanda di dalam istananya.
Situasi itu membuat Diponegoro geram dan ingin mengembalikan norma lama yang sudah lebih dulu ada sebelum Belanda dan kemudian Inggris mengangkangi kerajaan Jawa. Tentu saja niatannya ini disambut baik oleh banyak bangsawan Jawa dan bahkan pamannya Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya dikirim oleh pihak kraton untuk meredam aksi Diponegoro malah mendukung. Bahkan ketegangan ini akhirnya dipertegas sendiri oleh Diponegoro, menjadi semacam perang sabil bagi dirinya: perang melawan kekafiran (Belanda-Inggris-kraton yang kebarat-baratan) dan ia memposisikan diri menjadi imam mahdi. Lalu melengkapi diri dengan atribut semacam pejuang Ottoman, yang bermisi untuk menegakkan agama Islam di tanah Jawa.
Dengan membaca ini, dengan sendirinya pertanyaan-pertanyaanku itu dijawab oleh buku ini. Termasuk juga dengan penjelasan bahwa aksi Diponegoro lebih bersifat lokal dan sektoral di Jawa dan bidang ekonomi dan agama daripada sebuah aksi anti-kolonial yang lebih luas. Bahkan beberapa penjelasan ini memicu pertanyaan, darimana pengaruh ke-Islaman perjuangan Diponegoro itu? Apakah nantinya terkait dengan kiprah Tuanku Nan Renceh yang mengupayakan hal serupa di Sumatra? Coba lihat dari baju yang dikenakan dan tujuan sosio-keagamaannya.
Bagian kedua buku ini tentang persekongkolan orang Sepoy dengan pihak kraton Surakarta untuk menjatuhkan kepemimpinan Inggris. Sepoy adalah nama pasukan-pasukan Inggris yang didatangkan dari Benggala/Bengali sebanyak 5.000 orang. Prajurit Sepoy ini digambarkan begini: prajurit paling tinggi, mempunyai bentuk tubuh paling baik dan mempunyai penampilan paling agung. Yang dinilai oleh Raffles, kemampuannya sudah setara dengan prajurit Eropa, bahkan orang Jawa takut pada mereka ini. Soal ini, aku sudah pernah tahu dari buku Raffles The History of Java. Dalam buku itu dijelaskan dua informasi yang berkaitan dengan orang-orang Sepoy. Pertama di halaman 354-355, yang mengindikasikan bahwa persekongkolan itu bagaimana awalnya dan apa tujuannya dari pandangan Raffles sendiri. Menurut Raffles, persekongkolan ini dimulai dengan perkenalan seorang prajurit Sepoy ke kalangan istana dan segera meraih simpati karena raja dibilang keturunan dari Sri Rama dan mereka bertujuan hendak mengembalikan kejayaan Hindu dari pengaruh-pengaruh Barat. Di halaman 637, Raffles melaporkan keadaan pasukan Sepoy ini di Cimanggis yang hidup sehat dibandingkan para prajurit yang ada di Batavia.
Tapi di buku ini, Carey memberi aspek yang lebih informatif, misalnya dengan penjelasan psikologis kenapa Sepoy ingin memberontak yang salah satunya dipicu oleh ketakutan mereka sendiri kalau-kalau ditinggalkan Inggris dan akan dijual kepada Belanda setelah pemulihan kembali kekuasaan kerajaan Hindia Belanda setelah kekalahan Perancis. Penjelasan-penjelasan lain juga menambah informasi tentang kejadian yang secara terorganisir dihapuskan pemerintahan Inggris dalam sejarah negeri ini.
Bab terakhir buku ini, mengulas soal lukisan Raden Saleh yang diberikan Raden Saleh sebagai ucapan terima kasihnya atas beasiswa yang ia dapatkan dari pemerintah kolonial. Lukisan itu mengisahkan kisah penangkapan Diponegoro di Magelang.
Tapi anehnya, lukisan ini amat serupa dengan lukisan Nicolaas Pieneman yang berjudul "The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock".
Bertahun tahun lamanya dipercaya bahwa Raden Saleh adalah seorang yang pro Belanda karena dimakamnya tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”. Namun lewat lukisan yang mirip ini, Raden Saleh mengungkap sebuah cerita tentang bangsanya: Indonesia.
Pada saat penangkapan Pangeran Diponegoro dengan cara licik oleh Belanda, Raden Saleh masih berada di Eropa tepatnya di Perancis, kiblat demokrasi Eropa masa itu. Belanda sangat merahasiakan kelicikannya pada dunia International untuk menghindari tekanan Eropa.
Karena itu Raden Saleh tahu bahwa lukisan Pieneman bahwa Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.
Ia lalu membuat lukisannya sendiri tentang penangkapan tersebut dengan penggambaran pengikut Pangeran Diponegoro tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tidak terlihat. Menurut kalender peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya sedang berpuasa dan datang dengan niat baik mau berunding dan bukan berperang. Diponegoro ditangkap dengan mudah, Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.
Sayang sekali, buku ini terlalu tipis (214 halaman). Aku sebenarnya tidak keberatan bila buku ini ditulis oleh Peter Carey menjadi 1.000 halaman untuk masing-masing bab, seperti bukunya yang belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855.
sumber : http://sudahkahkaubaca.multiply.com/journal/item/126
Ada seorang ibu yang sangat beribadah kepada arwah Pangeran Diponegoro.
Suatu hari ibu ini berdoa kepada Pangeran Diponegoro :
Ibu : Kanjeng Pangeran tolong anak saya sudah usia 5 tahun. Dia pingin
sepeda roda tiga.
Pangeran : Baik. Terkabullah permintaanmu
Ibu : Tapi tolong jaga keselamatannya pangeran ....
Pangeran : Yoi .... (gaul)
Maka anak ini mendapat hadiah sepeda roda tiga terbagus yang ada di desa
itu ... dan kemudian dia tumbuh dewasa tanpa pernah celaka sedikitpun.
Pada usia 10 tahun, ibu ini menghadap lagi pada arwah Diponegoro.
Ibu : Kanjeng Pangeran, matur nuwun (terima kasih) atas sepeda roda
tiganya, tapi kini anak saya sudah besar jadi tidak mungkin naik roda
tiga. Tolong hadiahkan sepeda gunung yang bagus.
Pangeran : Baik. Terkabullah ...
Ibu : Tapi tolong jaga keselamatannya pangeran ...
Pangeran : Yoi ... (masih gaul juga)
Maka anak ini mendapat hadiah sepeda gunung Polygon terbaik. Dan dia
tidak pernah mengalami kejadian yang berbahaya dengan sepeda ini. Pada
usia 15 tahun, ibu ini menghadap lagi ....
Ibu : kanjeng Pangeran .... mohon ngapura (maaf) karena saya menghadap
lagi. Anak saya minta dibelikan honda Tiger, tapi saya tidak mampu.
Mohon Pangeran yang mengabulkan.
Pangeran : ... hmmm. Baik. Terkabullah ....
Ibu : Tapi tolong jaga keselamatannya Pangeran ...
Pangeran : ... baiklah
Tetapi kali ini ceritanya berbeda ..... anak ini, di hari pertamanya
mencoba Honda Tiger terbaru ..... melaju terlalu cepat dan menabrak Truk
Trailer ..... mati seketika remuk.
Ibu ini menghadap dan menangis ..... Pangeran, pangeran, kenapa anak
saya tidak dijaga ..... Lalu arwah Pangeran Diponegoro menjawab : "Edan
opo, waktu anakmu naik sepeda roda tiga atau sepeda gunung kudaku
gampang ngejarnya .... lah giliran naek Honda Tiger .... aku dikepret
.... mana bisa Kuda lawan Honda Tiger" ........... Honda memang tiada
duanya .... hehehe.
Ia seorang Mujahid keturunan Raja Yogjakarta. Seluruh nafas kehidupannya diabadikan untuk kemerdekaan Tanah Jawa, dengan bersendikan ajaran agama Islam.
Tegalrejo 29 Juli 1825. di bawah pimpinan Chevallier pasukan gabungan Belanda dan orang-orang patih Darurejo IV menyerbu laskar-laskar Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang terletak di barat laut Keraton Yogjakarta. Dentuman meriam dan bunyi letupan senapan membahana di seluruh penjuru desa.
Menghadapi serangan itu, kedua Pangeran bersama laskarnya segera menyingkir ke tempat yang lebih aman. Mereka menyadari, perang di medan yang amat sempit tidak menguntungkannya. Pangeran Diponegoro akhirnya memilih tempat yang lebih strategis untuk basis peperangannya di bukit Selangor, sebuah tempat yang dikelilingi lembah , benteng-benteng alam dan Gua, yang biasa dipergunakan bertapa. Tempat itu terletak 10 Km di sebelah barat daya kota Yogjakarta. Sedangkan keluarganya diungsikan ke desa Dekso.
Di lain pihak, Chevallier terus melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataan yang dimiliki. Alhasil, Chavalier dalam waktu singkat mampu menguasai Tegalrejo. Sayangnya, Tegalrejo telah kosong melompong. Bakar…. Bakar saja rumah Diponegoro sampai habis! Seru Chavalier di tengah kemarahan dan kedongkolan hatinya karena buruannya telah kabur.
Tanpa membuang waktu lagi, tentara gabungan itu membakar rumah Diponegoro dan puluhan rumah lain di sisi kanan kirinya. Dari kejauhan, di balik bukit terjal, di atas Kuda Getayu, Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi beserta seluruh anggota laskarnya menyaksikan dengan sedih pembumihangusan puluhan rumah tersebut.
Sebaliknya berita penyerangan Belanda ke Tegalrejo cepat menjalar ke seluruh pelosok Yogjakarta dan Surakarta. Sebagian besar rakyat tanpa dikomando berduyun-duyun datang ke Selangor lengkap dengan persenjataannya. Dari Surakarta, datang ulama Bayat, dan laskar-laskar yang di komandoi oleh Kyai Mojo dan Tumenggung Prawirodigdoyo. Dari kesultanan Yogjakarta, tidak kurang 74 bangsawan akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro di Selangor. Diantara kerumunan Bangsawan itu, terdapat Sentot Prawirodirjo, seorang Senopati muda yang belum berusia 18 tahun, putra Raden Ronggo Prawirodirjo III. Seperti halnya sang ayah, Sentot kemudian tampil sebagai pejuang besar yang sangat di takuti pihak Belanda.
Propaganda perang melawan bangsa kafir segara dilakukan di mana-mana, di Yogjakarta, Jayanegara segera membuat surat edaran untuk seluruh rakyat Mataram. Isinya mengajak berjuang bersama Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengusir kaum penjajah Kafir Belanda. Di wilayah luar Yogjakarta, seperti Kedu, Banyumas dan sekitarnya, ajakan jihad fi sabilillah di sampaikan oleh Kyai Kasan Besari yang disambut rakyat dengan gegap gempita.
Sesuai dengan saran Sinuhun Paku Buwono VI, laskar-laskar Diponegoro menggunakan taktik dan strategi perang “Dhedhemitan” alias “Gebag ancat nrabas geblas”. Menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian dengan cepat menghilang dibalik hutan-hutan, Gua, Bukit, atau kegelapan malam.
Rupanya taktik dan perang anggota laskar Diponegoro sangat menakutkan pihak Belanda. Tidak mengherankan, bila pada tahun-tahun pertama pihak Belanda kewalahan dan banyak mengalami kekalahan.
Kemenangan pertama Pangeran Diponegoro dan laskarnya didapat di desa Pisangan, perbatasan Muntilan dan Yogjakarta. Laskar Diponegoro yang dipimpin oleh Mulyo Santiko dengan gagah berani mencegah iring-iringan pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 120 orang yang berusaha masuk ke Yogjakarta. Mereka berhasil menghancurkan seluruh pasukan Belanda itu. Uang sebesar 50.000 gulden dapat dirampas berikut alat-alat perangnya. Kemenangan pertama ini segera di ikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya. Pada 6 Agustus 1825, pasukan Diponegoro yang dipimpin para panglimanya yang gagah berani berhasil menghancurkan markas Belanda di Pacitan, menyusul kemudian Purwodadi.
Kemenangan demi kemenangan tentu saja dapat mengobarkan semangat rakyat untuk bersama-sama bangkit melawan Kafir Belanda. Perangpun makin meluas, dinatarnya sampai ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun.
Kekalahan beruntun yang dialami Belanda, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda segera mengirim Letnan Jenderal Markus De Kock ke Jawa Tengah sebagai panglima angkatan perang Belanda. Jenderal De Kock mendapat kekuasaan untuk menjalankan segala tindakan dalam menangani peperangan.
Jenderal De Kock dengan licik segera menybarkan politik pecah belah, dan mengadu domba. Ia segera menemui dan memaksa Sunan Pukubuwono VI, dan Mangkunegoro II, dan Paku Alam I agar bersedia membantu Belanda. Ia juga mengerahkan bantuan pasukan pribumi itu untuk menggempur markas pasukan Diponegoro di Selarong. Namun, beruntung gerakan pasukan gabungan ini sudah dapat di ketahui oleh mata-mata Pangeran Diponegoro. Semua laskar dan pimpinnanya segera bersembunyi. Akibatnya, ketika pasukan Belanda menguasai Selarong pada malam hari, mereka hanya menemukan bukit dan Gua yang sudah kosong. Pasukan Belanda pun mundur dan kembali pulang dengan tangan hampa.
Tidak beberapa lama tentara Belanda pulang, malam itu juga Pangeran Diponegoro segera mengadakan pertemuan dengan para Senopatinya. Mereka membahas untuk segera memindahkan markasnya di Selarong. Semua sepakat. Desa Deksa yang jaraknya sekitar 23 Km dari Yogjakarta dijadikan markas baru.
Pertempuran kembali berkobar diseluruh Mataram. Hasilnya pada Januari 1826 Pangeran Diponegoro berhasil merebut dan menguasai daerah Imogiri dan Pleret, di susul daerah Lengkong, Kasuran dan Delangu.
Bagi pihak Belanda, kekalahan beruntun itu justru membuat Jenderal De Kock makin nekad. Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat Belanda untuk menambah anggaran perang. Anggaran itu rencananya untuk membuat benteng Stelsel. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak Pasukan Diponegoro di daearh-daerah yang di kuasai Belanda. Pelaksanaan benteng Stelsel juga dimaksudkan untuk mengadakan tekanan kepada Pangeran Diponegoro agar bersedia menghentikan peperangan.
Di wilayah Mataram kemudian muncul benteng-benteng Belanda yang kukuh, seperti di Bantul, Paluwatu, Pasargede, Jatinom, dan Delangu. Tidak kurang dari 165 buah benteng telah di dirikan Belanda untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Tekanan dari Belanda ini masih ditambah dengan adanya Bupati-bupati daerah yang memihak kepada Belanda, sehingga sangat menyulitkan komunikasi laskar Diponegoro antar daerah. Akibatnya, perlawanan itu menjadi mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Pasukan Bulkiyo mulai menghadapi masa-masa sulit.
Di tengah kesulitan itu, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para sesepuh dan Senopati membahas perkembangan dan situasi di medan perang. Pertemuan itu dilakukan di pesanggrahan Bagelan. Hasilnya mereka tetap melanjutkan perjuangan sampai kemerdekaan bumi tanah Jawa tercapai. Akibatnya, tidak sedikit laskar Pengeran Diponegoro yang gugur. Pangeran Kusumowijoyo yang mengobarkan pertempuran di Keraton Surakarta, akhirnya gugur di Lembah Kali Serang. Ia kemudian dikenal dengan nama Pangeran Serang, dan istrinya Raden Ajeng Kusriyah juga gugur di Dekso, Kulon Progo. Tidak berapa lama kemudian, gugur pula Tumenggung Prawirodigdoyo dari Gagatan. Ia gugur di medan tempur Klengkong saat memimpin 100 prajuritnya melawan tentara Belanda yang jumlahnya berlipat-lipat dengan dukungan meriam dan senjata laras panjang.
Belum lagi hilang rasa duka, kabar yang mengejutkan menyusul, Gusti Pangeran Notodiningrat bersama istri dan ibundanya dan tidak kurang dari 200 pengikutnya menyerah kepada Belanda di Yogjakarta. Dengan keberhasilan Belanda mempengaruhi Pangeran Notodiningrat Jenderal De Kock semakin gila mendekati pemimpin-pemimpin laskar Pangeran Diponegoro. Ia menjanjikan kedudukan dan hadiah-hadiah berlimpah bila mau menyerah dan mendukung Belanda. Satu bulan kemudian, Belanda kembali berhasil membujuk salah seorang panglima laskar Diponegoro, yaitu Pangeran Arya Papak dan Tumenggung Ario Sosrodilogo.
Kiai Mojo yang menjadi tulang punggung kekuatan pasukan perang Pangeran Diponegoro, akhirnya juga menyerah kepada pasukan Belanda. Menyerahnya Kiai Mojo merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro dan laskar-laskarnya. Tetapi Pangeran Diponegoro bertekad untuk tidak menyerah dan tetap mengobarkan perlawanan.
Pada 20 Desember 1828, Laskar Pangeran Diponegoro segera melancarkan serangan dahsyat terhadap markas Belanda di Nanggulan. Dalam pertempuran itu Kapten Van Inge tewas, sedang dari pihak pasukan Diponegoro keilangan Senopatinya yang gagah berani, Pangeran Prangwedono.
Berita hancurnya benteng Nanggulan, membuat jenderal De Kock semakin ketakutan, sebab ia selalu melihat sosok Senopati Sentot sebagai momok yang sangat berbahaya. Karena jenderal De Kock terus berupaya membujuk Sentot dengan berbagai cara agar mau menyerah. Tapi, Senopati muda itu tetap menolaknya. Belum berhasil membujuk Sentot, ia berhasil memperalat dan menekan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun, untuk menyerah. Sebabnya, jika tidak mau menyerah taruhannya adalah nyawa sepupunya.
Setelah Pangeran Ario Prawirodiningrat menyerah, menyusul Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Mangkubumi. Menyerahnya dua Pangeran yang gagah berani ini membuat Pangeran Diponegoro kembali terpukul telak dan membawa beban moral, tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga kepada seluruh prajurit Bulkiyo. Belum lagi batin Pangeran Diponegoro sembuh di akhir tahun 1829, satu persatu Senopati daerah menyusul jejak Senopati Sentot dan Pangeran Mangkubumi, antara lain, Pangeran Ario Suriokusumo, Kerto Pengalasan, pahlawan medan tempur Pleret, dan Pangeran Joyosudirjo
Rupanyan Pangeran Diponegoro tak bergeming, meski hatinya tertekan, ia tetap melanjutkan perjuangannya dan tetap menaruh kepercayaan atas kesetiaan rakyat Bagelan, Banyumas, dan Kedu. Usaha Jenderal De Kock untuk mempercepat peperangan rupanya tidak berhasil. Meski jauh sebelumnya Jenderal ini sudah menjanjikan 20.000 ringgit kepada siapa saja yang sanggup menagkap hidup atau mati Pangeran Diponegoro. Segenap rakyat dan laskar-laskar Pangeran Diponegoro tidak mau mengkhianati pemimpin yang agung ini.
Tapi, Jenderal De Kock tidak putus asa, melalui Kolonel Cleerrens, akhirnya bisa membujuk putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Dipokusumu, untuk menyerah. Penyerahan putra kesayangannya itu benar-benar membuat Pangeran Diponegoro terluka. Maka pada bulan Februari 1830, ketika Kolonel Cleerens menawarkan jalan perundingan, terpaksa Pangeran Diponegoro menerimanya dengan berat hati. Dua musuh bebuyutan inipun bertemu di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, pada tanggal 16 Februari 1830. Cleerens kemudian mengusulkan agar kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di kaki bukit Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal markus De Kock dari Batavia.
Dengan janji tidak dikhianati, Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan. Pada bulan Maret 1830, ia dengan pasukannya tiba di tempat perundingan, dirumah Residen Magelang. Bersama Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro menuju ruang kerja Jenderal De Kock. Beberapa putra Diponegoro dan perwira Belanda ikut menyaksikan jalannya perundingan tingkat tinggi tersebut.
Sekitar dua jam sudah perundingan berlangsung, tapi belum membuahkan hasil. Berkali-kali Jenderal De Kock mencoba membujuk agara Pangeran Diponegoro mengurangi tuntutannya. Tapi Pangeran Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya. Mendirikan sebuah Negara merdeka yang bersendikan agama Islam. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, apabila perundingan menemui jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh meninggalkan ruangan itu dengan bebas. Tapi kenyataannya, Jenderal De Kock curang, “Tangkap tangkap Diponegoro dan semua pengikutnya”, teriak De Kock kepada pasukannya sambil menodongkan pistol kearah Pangeran Diponegoro. Sejurus kemudian, Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan dalam sebuah penjara yang amat pengap.